Rabu, 13 Juni 2012

Kisah- Kisah Teladan (Pendeta Hindu yang Menjadi Muslim)

Kisah Hidup, “Pandit Bane Musalmaan” (Pendeta Hindu yang Menjadi Muslim)

MAKKAH – Kembali ke kamar kontrakannya usai shalat
Isya, Abdur Rahman (42), duduk dengan pena dan kepala penuh ide.
Dia tengah menulis kisah hidupnya, “Pandit Bane Musalmaan” (Pendeta
Hindu yang Menjadi Muslim) dalam bahasa ibunya, Hindi.
Warga negara India ini bekerja sebagai penjaga toko di Perusahaan
Konstruksi Saudi Binladin BTAT, pada Proyek King Abdul Aziz Endowment,
seberang Masjidil Haram, Makkah.
Sebelum datang ke Jeddah (12 Mei 2002) dan memeluk Islam, Abdur Rahman
dikenal sebagai Sushil Kumar Sharma.

Kampung halamannya di Amadalpur, sebuah desa kecil di Haryana, negara
bagian India sebelah utara. Ia lahir dalam keluarga Hindu ortodoks
dengan keistimewaan memimpin ritual keagamaan di kuil desa.
Saat tinggal di tempat penampungan perusahaan di Jeddah, seorang kawan
memberinya beberapa buku Islam dalam bahasa Hindi. Ia kemudian
dipindahkan ke Riyadh untuk bekerja pada sebuah proyek di kampus
perempuan Universitas Putri Noura.
“Di tempat penampungan itulah saya bertemu sejumlah Muslim dari India
dan Pakistan yang menjelaskan tentang agama Islam kepada saya,” tutur
Sharma.
Salah satu di antara mereka adalah sahabat karib Sharma. Namanya
Salim, berasal dari Rajasthan—sebuah negara bagian di barat laut
India. Mereka berdua tinggal dalam satu kamar. Saat-saat senggang,
Salim menceritakan kisah-kisah nabi dalam Islam dan membacakan hadis
Rasulullah SAW.
“Hati saya bergetar. Dan saya mulai bertanya-tanya pada diri sendiri.
Apa yang akan terjadi padaku setelah mati? Apakah aku akan masuk
neraka selamanya karena dosa-dosaku? Saya takut dengan azab kubur bagi
orang-orang berdosa dan kafir,” ungkap Sharma.
Ia pun mulai menghabiskan malam tanpa dapat memejamkan mata. Ia merasa
sudah waktunya untuk memeluk Islam dan menjadi seorang pengikut Nabi
Muhammad yang setia. Akhirnya, pencarian panjang Sharma akan kebenaran
menemui ujungnya.
“Keesokan harinya, saya mengungkapkan niat untuk memeluk Islam kepada
Salim dan rekan-rekan lain di penampungan. Ada sorak kegirangan di
tempat kerja kami. Semua orang bahagia, mereka mengucapkan selamat dan
memelukku,” kenang Sharma.
“Bagi saya, Islam itu adalah sistem persaudaraan universal yang tidak
mengenal kasta, perbedaan, warna kulit, atau ras. Inilah yang membuat
saya tertarik pada Islam,” ujarnya.
Esok harinya, digelar pertemuan dengan para
anggota Kantor Koperasi untuk Panggilan dan Bimbingan di Al-Batha,
Riyadh. Imam masjid di penampungan menuntun Sharma mengucapkan dua
kalimat syahadat.
“Saya mengucapkan dua kalimat syahadat dengan sepenuh hati, menerima
Allah sebagai Tuhan dan Muhammad SAW sebagai Rasul-Nya. Imam masjid
juga menyarankan saya untuk mengganti nama menjadi Abdur Rahman. Saya
pun menerimanya,” kenang Sharma.
Setelah itu, Sharma alias Abdur Rahman dipindahkan ke Bahra, sebuah
kota yang terletak di dekat jalan raya Makkah-Jeddah. Mandor proyek
juga senang mengetahui dirinya telah memeluk Islam. Sang mandor pun
bersikap baik padanya dan kerap mengulurkan bantuan.
“Namun, saya ingin dekat dengan Tuhan,” kata Rahman. “Saya berdoa
kepada Allah agar memindahkan saya ke Makkah. Alhamdulillah, doa saya
dikabulkan. Saya pun dipindahkan ke tempat kerja yang dekat dengan
Masjidil Haram.”
Pulang kampung dan berdakwah
Kini, Abdur Rahman memiliki tugas besar; menyampaikan pesan-pesan
Islam kepada anggota keluarganya. Ia memiliki seorang istri dan dua
putra; tujuh tahun dan 16 enam belas tahun.
Ia pun telah memberitahu keluarganya via telepon, bahwa dirinya telah
memeluk Islam dan menjadi seorang Muslim. Awalnya, mereka tidak
percaya. Istrinya mengatakan akan menentukan sikap setelah Rahman
pulang kampung saat libur nanti.
“Tiap hari saya berdoa dan bermunajat kepada Allah SWT agar membimbing
keluarga saya ke jalan yang lurus, dan melembutkan hati mereka untuk
menerima Islam,” kata Rahman dengan air mata berlinang.
Rahman juga sadar—sebagai bekas pendeta yang dihormati—akan menghadapi
banyak tentangan dari saudara, teman dan kerabat satu desanya. Namun,
ia bertekad menghadapi mereka dengan dakwah dan hikmah. “Saya yakin
Allah akan membantu saya,” ujarnya.
Abdur Rahman juga berpesan kepada semua orang, “Saya ingin
menyampaikan pesan ke seluruh non-Muslim di dunia untuk menerima
Islam, agar mereka selamat di dunia dan akhirat.”
“Dan kepada seluruh umat Muslim, agar mengikuti dan melaksanakan
ajaran Islam seperti yang disampaikan oleh Rasulullah SAW. Saya mohon,
berhenti meniru orang lain!”
Redaktur: Chairul Akhmad
Sumber: Saudi Gazette
Sumber : http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/12/06/11/m5fxt7-mantan-pendeta-hindu-yang-mendapat-hidayah-1
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/12/06/11/m5fzhl-mantan-pendeta-hindu-yang-mendapat-hidayah-2habis

Share this:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar